TIM PENULIS
BPNB D.I. YOGYAKARTA
2017
JTY - 051 (050 - 059)
1411-5239
Patrawidya volume 18 nomor 3 Desember 2017 memuat 8 artikel yang terangkum dalam rumpun kajian tentang sejarah dan budaya. Artikel pertama merupakan hasil penelitian Bambang Purwanto, yang berisi tentang marjinalisasi sejarah kerajaan Pajang dari narasi besar sejarah Indonesia. Historiografi menempatkan sejarah Kerajaan Pajang secara marginal sebagai akibat dari warisan tradisi orientalisme. Hal ini juga diperparah dengan perangkat metodologis yang tidak bisa menginterpretasikan jebakan linguistik pada naskah-naskah kuno. Artikel selanjutnya berisi tentang peranan sosok Sukaptinah dan Hajinah dalam gerakan Nasionalis di Indonesia. Artikel yang ditulis oleh Mutiah Amini tersebut mengungkapkan bahwa sosok Sukaptinah dan Hajinah memperjuangkan hak-hak warga (terutama kaum wanita) melalui ide dan pemikiran politik dalam kerangka kebangsaan. Galuh Bayuardi, Andang Firmansyah dan Superman menulis artikel tentang Kota Pontianak dalam prespektif sejarah dan heterogenitas penduduk. Meskipun memiliki heterogenitas penduduk, Kota Pontianak juga pernah mengalami konflik yang bermuara pada fragmentasi antar penduduk. Namun demikian, sebagian besar masyarakat memiliki asa untuk hidup harmoni dalam bingkai multikultur. Artikel lainnya berisi tentang kearifan lokal masyarakat Kampung Wana di Lampung Timur dalam arsitektur rumah tradisional, yang ditulis oleh Ani Rostiyati. Rumah tradisional tersebut merupakan warisan budaya sebagai manifestasi pengalaman hidup masyarakatKampun Wana secara turun temurun. Mezak Wakim menulis tentang makna dan fungsi arsitektur rumah adat Im sebagai wariusan budaya masyarakat Masela, Maluku. Budiana Setiawan menulis tentang makna dan fungsi upacara tradisional masyarakat lereng Gunung Lawu. Upacara tersebut merupakan wujud interaksi baik manusia dengan sesama manusia, maupun manusia dengan alam. Tulisan artikel lainnya dari Yuzar Purnama yang menulis tentang nilai-nilai dalam tradisi lisan Buleng, yaitu kisah Raja Tanpaingan. Artikel terakhir dari Ernawati Purwaningsih yang berisi tentang perubahan pada tradisi nyadran Tuk Tempurng di sekitar Situs Liangan.