Polemik Di Antara Budaya Dan Bencana
Pontianak – Bencana kabut asap yang terjadi dalam dua bulan terakhir di Sumatera dan Kalimantan menjadi polemic yang berkepanjangan. Darimana asap berasal, bagaimana tindakan yang harus diambil, termasuk saling tuding siapa yang harus bertanggung jawab terhadap bencana ini menjadi perdebatan yang cukup serius. Para peladang berpindah dengan tradisi bakar lahan menjadi salah satu pihak yang sering disebutkan ikut menyumbang terjadinya kabut asap ini. Benarkah demikian?
BPNB Pontianak merasa terpanggil untuk ikut serta mengurai permasalahan-permasalahan terkait kebakaran lahan dan bencana asap ini dengan menyelenggarakan Dialog Budaya dan Kesejarahan yang dilaksanakan dari tanggal 20 – 23 Oktober 2015. Dialog yang mengambil tema “Polemik Di Antara Budaya Dan Bencana : Dampak kebakaran lahan dan bencana asap terhadap tradisi dan keadilan akses tenurial di Kalimantan Barat” dihadiri oleh stake holder pemerintah terkait, budayawan dan tokoh masyarakat, LSM, media lokal dan nasional, serta peneliti budaya dan kesejarahan. Bertempat di ruang aula BPNB Pontianak, kegiatan ini dibuka oleh Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat yang diwakili oleh Bapak Gunawan.
Dengan menghadirkan beberapa narasumber seperti Prof. Dr. Syamsuni Arman (Guru Besar FISIP UNTAN), Kombes Polisi Suhadi, M.Si (Ketua Satgas Karhutla Kalimantan barat), Hendrikus Adam (staf WALHI), dan Stefanus Masiun, ME (Ketua AMAN Kalbar), diharapkan dialog ini tidak hanya mampu mengidentifikasi dampak sosial dan kultural kasus kebakaran lahan dan hutan serta kabut asap terhadap aksesibilitas tradisi perladangan masyarakat serta mengidentifikasi perubahan tradisi dan kearifan local dalam upaya mengantisipasi meluasnya kebakaran hutan namun juga mampu menyusun poin-poin rekomendasi tentang kasus ini pada kongres kebudayaan V di Bengkayang tahun 2016. Adm.