PANDE MADE KUTANEGARA, ENDAH SUSILANTINI, YUSTINA HASTRINI NURWANTI, SUYAMI, ROHMAN, GALIH SURYADMAJA, DIAZ AGUNG PRONOWIBOWO
BPNB D.I YOGYAKARTA
2012
RKE - 793.3 (790-799)
602-17271-4-2
Pada awal kemunculannya, kesenian dongkrek difungsikan sebagai seni sakral, namun dalam perkembangannya mengalami proses rekonstruksi dan reproduksi, menjadi seni sakral sekaligus seni pertunjukan. Secara simbolik kesakralannya disimbolkan melalui empat aktor lakonnya yaitu makhluk halus, Roro Perot, Roro Ayu, dan orang tua dan semuanya memakai topeng. Sejauh bukti kesejarahan yang ditemukan, dongkrek ini diciptakan untuk menggambarkan tentang situasi sosial di masa itu yang penuh kesengsaraan akibat kebijakan pemerintah kolonial yang menerapkan tanam paksa dan sebagainya. Bersama konstruksi cerita yang melegenda, makna kultural ini telah mengantarkan kesenian dongkrek sebagai kesenian rakyat yang menyejarah hingga membuatnya dikukuhkan sebagai kesenian khas daerah Madiun di masa sekarang.