BALA SARIBU KAJIAN TENTANG TRANSFORMASI TRADISI DAYAK UNTUK GERAKAN PEMBANGUNAN DI DESA NANGKA, KABUPATEN LANDAK, PROVINSI KALIMANTAN BARAT

Pengarang: 

BENEDIKTA JULIATRI WIDI WULANDI

Penerbit: 

BPNB PONTIANAK

Tahun Terbit: 

2011

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Barat
Rak: 

KBA - 399 (390-399)

ISSN/ISBN: 

-

Jumlah Halaman: 
120

Di masa lalu pengayauan merupakan salah satu tradisi budaya masyarakat Dayak di Kalimantan. Bala saribu adalah salah satu komponen dari tradisi pengayauan tersebut, khususnya dalam peristiwa pengayauan yang dimaknai sebagai ”turun untuk berperang”. Bala saribu dihadirkan melalui upacara sakral Nyaru’ Tariu (Nariu) yang dilaksanakan sebelum pergi mengayau (berperang). Melalui upacara ini para panglima perang mengundang atau memanggil roh kamakng untuk membantu mereka. Roh kamakng tersebut akan merasuki tubuh orang-orang yang memanggilnya, sehingga mereka memperoleh kekuatan berlipat ganda seperti layaknya kekuatan seribu orang. Oleh sekelompok kaum muda di Kalimantan Barat, karakter dasar dari bala saribu itu kemudian dijadikan sebagai semangat untuk mengembangkan Gerakan Bala saribu di Borneo Barat. Transformasi tradisi budaya dapat terlihat melalui adanya perbedaan antara bala saribu di masa lalu dengan Gerakan Bala Saribu yang dikembangkan di masa kini. Jika dahulu bala saribu berwujud kekuatan roh yang merasuki orang-orang (para panglima perang) yang hendak pergi mengayau atau berperang, maka kini Gerakan Bala Saribu merupakan kekuatan yang dihimpun dari masyarakat melalui pengumpulan dana publik. Kesediaan masyarakat untuk berpartisipasi melalui pemberian sumbangan sebesar seribu rupiah per orang/lembaga ini diharapkan dapat membuat Gerakan Bala Saribu menjadi semakin kuat, bergerak cepat, dan memberikan dampak yang besar bagi perubahan masyarakat desa ke arah yang lebih baik.