BANJARMASIN AKHIR ABAD XIX HINGGA MEDIO ABAD XX PEREKONOMIAN DI KOTA DAGANG KOLONIAL

Pengarang: 

DANA LISTIANA

Penerbit: 

BPSNT PONTIANAK

Tahun Terbit: 

2011

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Selatan
Rak: 

KSE - 959.8 (950-959)

ISSN/ISBN: 

9-786028-451499

Jumlah Halaman: 
221

Penghapusan Kesultanan Banjar membuka penertasi ekonomi kolonial di Tanah Banjar. Kendali dan peran ekonomi bangsawan Banjar dimatikan dan peran regulasi digantikan oleh pemerintah Hindia Belanda sedangkan peran ekonominya dibagi bersama antara investor Barat dan Timur Asing dengan porsi yang lebih besar bagi pihak pertama. Adapun penduduk pribumi walau ada yang bisa bersaing menghadapi gempuran perilaku ekonomi pendatang, sebagian besar tetap menjadi produsen penghasil produk ekspor dan berada di luar pusaran ekonomi pasar yang berlangsung di tanahnya sendiri. Banjarmasin pun semakin mantap sebagai pusat perdagangan kolonial dengan kegiatan perdagangan tersier sebagai sandaran kehidupan ekonomi kota. Banjarmasin menjadi dan berkembang sebagai kota perdagangan sekaligus pusat perekonomian Keresidenan Borneo Selatan disebabkan beberapa faktor, diantaranya letak geografis yang strategis, kegiatan perdagangan disokong oleh pelaku dagang baik pribumi maupun asing, ketersediaan berbagai macam komoditas yang dihasilkan oleh daerah hinterland, kebijakan dan fasilitas sosial-ekonomi yang menunjang kegiatan pelaku ekonomi.