LISYAWATI NURCAHYANI
BPNB PONTIANAK
2011
KBA - 959.8 (950-959)
978-602-7942-63-9
Kehadiran PGRS/PARAKU di perbatasan menambah kekuatan politik komunis menjadi semakin bertambah. Berbeda dengan strategi yang dilakukan oleh TNKU, pendekatan kelompok PGRS/PARAKU terhadap masyarakat di perbatasan menggunakan cara-cara persusif , dimana mereka tidak saling mengganggu tetapi justru memberikan bantuan kepada masyarakat berupa obat-obatan, menjahit pakaian, mendirikan rumah dan sebagainya sehingga yang tadinya masyarakat bersikap netral lama kelamaan terpengaruh. Pendekatan PGRS yang beranggotakan masyarakat Cina Kalbar berjalan dengan mulus sebab adanya kedekatan secara budaya, sosial dan kepercayaan yang tidak berbeda jauh antara masyarakat Dayak dengan Cina. Penghianatan PGRS terhadap sumpah adat yaitu dengan melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap kepala adat Dayak di sektor barat yang membuat kepercayaan masyarakat semakin memudar. Maka terjadilah pembunuhan oleh masyarakat Dayak terhadap masyarakat Cina secara membabi buta, sehingga hal ini mengakibatkan terjadinya perpindahan penduduk Cina dari pedalaman ke kota. Kesempatan ini yang dipakai TNI untuk semakin dekat dengan masyarakat Dayak Bidayuh khususnya. Tanpa bantuan dari masyarakat, TNI akan sulit menumpas PGRS karena yang menguasai medan adalah masyarakat. Peran aktif masyarakat dayak bidayuh tidak hanya berhenti disitu saja dalam menumpas PGRS/PARAKU, karena ia membantu ABRI sebagai penunjuk jalan, mata-mata, maupun sumber tenaga untuk mengangkut logistik dan tenaga keamanan kampung dan lingkungan.