PATORANI SANG PEMBURU IKAN TERBANG TRADISI BAHARI  

Pengarang: 

NASRUDDIN

Penerbit: 

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI

Tahun Terbit: 

2023

Daerah/Wilayah: 
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Rak: 

MPH - 639.2.390 (630-639)

ISSN/ISBN: 

-

Jumlah Halaman: 
175

Provinsi Sulawesi Selatan, kawasan pantai galesong, masyarakatnya hidup bergantung pada laut dengan tradisi Patorani yang diwarisinya secara turun temurun sebagai suatu bentuk sistem mata pencarian yang bersifat tradisional. Secara etimologis, istilah pataroni, berasal dari bahasa Makassar yang terdiri dari 2 suku kata “pa” yang artinya sebagai suatu sistem mata pencaharian yaitu nelayan dan “torani” adalah nama jenis ikan yang bisa terbang. Maka kata “pataroni” menunjukkan sekelompok orang dengan pekerjaan khusus pencari ikan terbang. Nama lain ikan terbang dalam bahasa Makassar adalah “tawarani”, sedangkan bagi masyarakat Bugis menyebut ikan bersayap ini dengan nama “tuing-tuing”. Tradisi Patorani ini diperkirakan muncul pada sekitar tahun 1672. Ketika itu terjadi konfik antara Pangeran Trunojo dari Madura terhadap Susunan Mataram Amangkurat I. Ritual Patorani merupakan kearifan lokal masyarakat nelayan patorani yang tersimbolisasi dalam bentuk ritual. Ritual ini merupakan warisan dari generasi ke generasi melalui proses sosialisasi. Dilaksanakan setiap setahun sekali pada bulan April-Mei. Adapun ritual ini dapat terbentuk karena sejak dulu masyarakat nelayan patorani percaya bahwa di laut terdapat penguasa lautan yang dapat memberikan mereka kebajkan ataupun keberkahan bergantung pada perlakuan mereka terhadap laut. Kedatangan Islam menjadikan beberapa ritual yang ada sejak dahulu berasimilasi dengan ajaran Islam, tanpa menghilangkan esensi dari ritual itu sendiri. Ritual ini dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan yang memiliki nilai atau esensi itu sendiri, sehingga harus dilakukan secara khidmat. Upacara ini sebagai wujud dan permohonan izin mereka terhadap penguasa laut dari Allah agar selamat dan diberkahi. Tradisi Patorani merupakan budaya bahari dan kearifan lokal masyarakat Galesong yang memberikan dampak positif dalam konservasi lingkungan karena ramah lingkungan. Selain itu, ritual ini juga mendukung masyarakat sekitar untuk tetap melaut dan akhirnya dapat memenuhi kebutuhannya secara ekonomis. Dan dalam konteks sosial, ritual ini melibatkan seluruh lapisan masyarakat pesisir, baik itu punggawa, juragan, sawi, keluarga dan kerabat nelayan ataupun masyarakat Galesong secara umum.