SUPRAYITNO, RATNA, S.P DEWI MURNI
BPNB ACEH
2016
SAN-908 (900-909)
978-602-9457-57-5
Sebelum serbuan militer Belanda tahun 1947 kesegenap basis-basis militer republik di Medan Area, banyak wanita yang masuk mengikuti pelatihan militer yang diadakan oleh TKR dan Lasykar Rakyat. Boleh dikatakan bahwa sebagian besar mereka adalah kalangan terdidik perkotaan, yang memiliki kesadaran politik tinggi. Diantara mereka yang kemudian berhasil menamatkan pendidikan di TKR, mendirikan pusat-pusat pelatihan bagi wanita pejuang di Medan maupun di tempat-tempat lainnya di Sumatera Utara. Salah satu aspek yang mendorong keterlibatan wanita dalam revolusi kemerdekaan adalah balas dendam atau sakit hati terhadap Belanda. Perasaan itu muncul mengingat anggota keluarganya dibantai oleh Belanda. Selama revolusi, para wanita pejuang memiliki pengalaman karena ikut bergerilya bersama pejuang pria.