SILAT KRATON KHASANAH BUDAYA ISTANA AMANTUBILLAH BELADIRI TANGAN KOSONG

Pengarang: 

MARDAN ADIJAYA KESUMA IBRAHIM

Tahun Terbit: 

2003

Daerah/Wilayah: 
Kalimantan Barat
Rak: 

796.8 (UMUM)

ISSN/ISBN: 

-

Jumlah Halaman: 
135

Silat Kraton merupakan khasanah turun temurun dari para leluhur baik itu berupa gerak dan isinya, dan dalam hal ini termasuklah segala nilai-nilai etikanya. Dalam perkembangannya, silat kraton memperkaya gerakannya dari hasil harmonisasi dan improvisasi dengan silat-silat silat kampung yaitu silat Tujuh, silat  Dua-belas, silat Dam-dam, silat Sumur Tujuh, silat Sajadah, sila Bangau Putih,  silat Harimau Putih (macan keboka), silat Kera Berantai (jambilan musut), silat Nage Suwik, silat Cimpedek dan silat Diri Sejati. Selain itu dalam memperbaiki pola bertahan dan menyerangnya, silat Karton juga menutupi kelemahannya dengan melihat, mempelajari dan memahami beladiri dari bangsa lain seperti Tae Kwon Do (Korea), Sado Mu Sool (Sword Fighting, Korea), Karate (Japan), dan berbagai martial arts lainnya. Silat kampung itu sendiri asalnya adalah beladiri yang ada dalam kalangan para panglime, prajurit dan masyarakat dalam lingkup suatu wilayah kerajaan mempawah tempo dulu. Nama silat Kraton sendiri, diperkenalkan pertama kali oleh Pangeran Ratu (P.R.) Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim. Silat Kraton mempunyai lima prinsip dasar yang harus dijalankan para pesilat agar dapat benar-benar menjadi seorang satria sejati, yaitu prinsip silat, sengkelat, paelat, kilat, dan iman/nyali. Ada 27 jurus yang harus dikuasai pesilat Kraton yang pada dasarnya untuk melumpuhkan dan bilamana perlu dapat mematikan lawan yang dijelasakan dalam laporan ini. KEMBANGAN silat Kraton dapat disamakan dengan KATA dalam beladiri karate. Kembangan ditujukan untuk menimbulkan rasa dan karsa dalam jiwa pesilat. Selain itu kembangan akan menimbulkan daya lentur dan daya gerak refleks dari dalam diri pesilat. Ada tiga kembangan dalam silat Kraton, mulai dari tingkat kerumitan yang terendah (kembangan satu), sedang (kembangan dua), dan tertinggi (kembangan tiga). Sebagai beladiri tradisional, silat Kraton mempunyai tata cara dalam melakukan adat istiadat yang harus dikerjakan dalam mempelajarinya dan dilakukan secara bertahap, lengkap, dan benar. Tujuannya adalah untuk mempertahankan tradisi agar jangan sampai hilang ditelan perubahan zaman.