DRS. T. SYAMSUDDIN
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1980/1981
2.4(300-31
SISTEM KESATUAN HIDUP SETEMPAT DAERAH PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH
Kesatuan hidup setempat atau komunitas terkecil pada suku-suku Kluet di sebut kampung. Tiap kampung terbentuk oleh kawasan pemukiman, kawasan persawahan, dan kawasan perkebunan (termasuk ladang). Sungguhpun demikian tidak berarti bahwa setiap teritorial yang sudah mempunyai syarat di atas dapat terus dinyatakan sebagai sebuah kampung. Sebab masih terdapat beberapa syarat lagi untuk memperkuat suatu teritorial sebagai sebuahkampung.Syarat-syarat yang lain yaitu adanya keucik, teungku meursah (atau mesjid), dan deyah. Bila dihubungkan secara geografis, kampung-kampung dari suku bangsa Kluet adalah kampung-kampung yang agraris yang mendasarkan mata pencahariannya kepada pertanian (sawah, kebun dan ladang). Selanjutnya bila dihubungkan dengan komunikasi atau transportasi dapat digolongkan kepada kampung pedalaman yang hubungan fisiknya relatif terisolir. pada beberapa kampungtertentu ditemukan sebagian kecil golongan bangsawan. Pucuk pimpinan kampung adalah keucik. Dalam penyelenggaraan pemerintahan kampung, keucik di bantu oleh seperangkat pembantu. Mereka terdiriatas teungku meursah (atau tengku imam mesjid), keujruen blang, petua anak beru, dan indung mudo. Mereka ini mempunyai kekuasaanterbatas pada bidang yang diurusnya. Hubungan sosial yang berlangsung antara para warga kampung berlangsung dalam suasana intim dan akrab. Keakraban itu dijalin oleh faktor ikatan kekerabatan, mata pencaharian yang sama, kultural dan keagamaan (Islam) yang sama. Suku bangsa Kluet mengenal sistem pengendalian sosial yangmengatur setiap warga kampung dalam berpikir,berbuat dan bertingkah laku seperti yang diharapkan oleh nilai-nilai, norma-norma, dan aturan-aturan yang berlaku dalam komunitasnya. Sarana dalam mewujudkan pengendalian sosial yaitu dengan cara mempertebal keyakinan, memberi imalan, mengembangkan rasa malu, dan mengembangkan rasa takut. Jumlah penduduk yang relkatif kecil, intensitas pergaulan yang tinggi dan kawasan yang agak terisolir tentu turut berpengaruh kepada efektivitas dari pada pengendalian sosial