TANTANGAN DAN RONGRONGAN TERHADAP KEUTUHAN DAN KESATUAN BANGSA (KASUS DARUL ISLAM DI ACEH)

Pengarang: 

MUHAMMAD GEDE ISMAIL, DKK

Penerbit: 

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Tahun Terbit: 

1994

Daerah/Wilayah: 
Nanggroe Aceh Darussalam
Rak: 

SPR - 904.7 (900-909)

ISSN/ISBN: 

-

Jumlah Halaman: 
141

Pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia di Aceh di anggap berakhir setelah pimpinan dan para pengikutnya turun dari gunung, kembali dan diterima dalam masyarakat. Dengan selesainya pemberontakan itu, pemerintah berusaha membangun kembali Aceh yang selama pemberontakan DI/TII mengalami kehancuran di segala bidang. Adapun bidang yang dibangun pada waktu itu diantaranya bidang pendidikan dan bidang pemerintahan. Untuk maksud tersebut pemerintah Daerah Istimewa Aceh mengadakan suatu musyawarah di Banda Aceh pada tanggal 19 s.d 23 Desember 1961. Dengan diadakannya musyawarah itu, pemerintah Aceh menyadari bahwa kebijaksanaan yang diambil untuk membangun Aceh dan penyempurnaan pemulihan keamanan perlu memperhatikan faktor-faktor psikologi masyarakat. Masa sesudah penyelesaian pemberontakan Darus Islam di Aceh adalah masa pembangunan masyarakat di segala bidang. Keadaan yang tidak menguntungkan itu berangsur pulih, apalagi dengan dimanfaatkan pelita demi pelita selama masa Pembangunan Jangka Panjang I, rakyat di daerah Aceh dapat berdiri dan berkiprah sejajar dengan rakyat-rakyat di daerah lain dalam suatu wawasan nasional Republik Indonesia.

TANTANGAN DAN RONGRONGAN TERHADAP KEUTUHAN DAN KESATUAN BANGSA (KASUS DARUL ISLAM DI ACEH)