SERAT ERANG-ERANG NATA PANDAWA Serat Erang-Erang nata pandhawa, merupakan naskah Jawa tersimpan di Sasana Pustaka kraton Surakarta. Isi keseluruhannya merupakan suri-tauladan atas kejadian yang diderita oleh Keluarga Pandawa, khususnya sehubungan peristiwa permainan judi (permainan dadu) yang dilaksanakan Puntadewa, sehingga membawa akibat menerima hukuman 12 tahun harus berdiam di hutan,1 t…
SERAT PARAMAYOGA (SERAT KALEMPAKING PIWULANG) Serat Paramayoga ini tidak menyajikan sebuah cerita atau kisah, tetapi menyajikan kumpulan nasihat-nasihat atau petuah-petuah, sesuai dengan judulnya. Kata "parama" itu antara lain berarti terutama, terbaik, tertinggi, teristimewa dan sebagainya, pendek kata semua yang serba paling. Tetapi "parama" juga dapat berarti agung, kepala, pertama, dan s…
SRIKARONGRON 3 Pada tanggal 10 Muharram, tahun Alip, angkatnya masih sama dengan yang tersebut di muka Sri Susuhunan hendak berburu rusa di hutan tutupan, Krapyak, Kartasura. Senjata upacara atau pusaka yang dibawa antara lain Kanjeng Kyai Tejadaru berujud gada, Kanjeng Kyai Harjasara berujud tombak, Kanjeg Kyai Jabardas berujud pemukul. Diceritakan bahwa Sri Susuhunan adalah seorang penemba…
SRIKARONGRON 2 Siang-malam acara di dalam istana Kasunanan seolah-olah tak pernah berhenti. Pada malam Kamis Sri Baginda memanggil para ulama berkumpul di Bangsal Pracimarga untuk membaca Kitab Kuran, Fikih, Usul, Tasauf, Tabirukrukyan, Kitab Suleman dan sebagainya. Pembacaan itu diselingi dengan ceramah agama atau mengupas makna bacaan. Berkali-kali pertemuan Sunan dengan Sultan yang menunj…
SRIKARONGRON 1 Bagian pertama ini menceritakan perjalanan Sri Susuhunan Pakubuana X. Tujuannya ialah hendak bertamu kepada Sri Sultan Hamangkubuana. Yang menyongsong kedatangan Sri Susuhunan di stasiun balapan antara lain Asisten Residen Surakarta A.H.T.H Atepel. Rombongan terlebih dahulu singgah di karesidenan dan langsung diterima oleh Residen Yogyakarta dan para pejabat gubermen di wilaya…
BABAD PACINA IV Utusan Sang Raja telah sampai di Surabaya bertemu dengan Seconagoro dan Sosronagoro. Namun kapten kumpeni menasehatkan agar yang dkirimi hanya tingkat mantri saja. Surabaya perlu dijaga, barangkali prajurit Cina datang menyerang. Kedua bupati itu merasa agak bingung, tetapi berusaha mengumpulkan wadya bala, dan terkumpullah kira-kira delapa puluh orang dan mereka itulah yang …
BABAD PACINA III Sang raja di Kartasura telah mendengar bahwa musuh tela mendekat dengan jumlah sangat besar. Kemudian diperintahkan kepada Tumenggung Mangkuyudo, Rojoniti, Mangkuprojo, untuk menghadapi musuh. Prajutit Demak telah berhadapan dengan wadya bala Kartasura di Tengaran, sedang pucuk barisan Cina ada di Tingkir. Pun Pangeran Pringgoloyo dipanggil Sang Raja dengan para wadya balany…
BABAD PACINA II Para adipati pendapatnya masih tetap seperti dulu. Patih lalu melapor kepada raja. Juga melapor bahwa Tumenggung Tirtanagara meninggal. Arya Wiryadiningrat lalu diangkat untuk menggantikannya. Dalam pada itu Paridan atau Martapura telah memberitahu Cik Macan dan Muda Tik pemimpin Cina di Gerobongan bahwa sang prabu memihak Cina. Karena itu supaya dilaporkan kepada Saing Seh d…
BABAD PACINA I Babad Pacina ini ditulis oleh Raden Ngabehi Sasradipraja dengan mengutip Serat Babad milik raja di Surakarta. Pada waktu itu pula di Kartasura sedang ada perubahan aparat pemerintahan. Rangga Wikrama diangkat menjadi Wedana gedong kiwa menggantikan Sumadiprata, dengan gelar Tumenggung Nitinagara. R.M. Karaton menggantikan Pangeran Bumita yang telah wafat, diberi gelar Pangeran…
BABAD PACINA V Terjadilah pertempuran sengit wadya bala Mantaram bersama dengan barisan Cina melawan barisan kumpeni. Desak-mendesak, serang-menyerang, tembak-menembak, namun akhirnya orang Cina dan wadya Mantaram bubar berhamburan. Dilaporkan tentang kekalahan tersebut, Sunan Kuning melarikan diri, maksudnya untuk mengungsi ke Semarang. Dikejar-kejar oleh wadya Kartasura, namun yang mengeja…