Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalimantan Barat

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
Image of POLA PENGASUHAN ANAK SECARA TRADISIONAL PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH
Penanda Bagikan

Text

POLA PENGASUHAN ANAK SECARA TRADISIONAL PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH

M. ALAMSYAH B - Nama Orang; MUHAMMAD US - Nama Orang; RUSDI SUFI - Nama Orang; AZHAR MUNTHASIR - Nama Orang; DARWIS - Nama Orang; M. RASYID ADAM - Nama Orang;

Pengasuhan anak masih dalam kandungan ibunya dan ada beberapa pengasuhan yang terdapat pada saat itu , sedangkan yang dianggap penting adalah Mee bu bid eun (bawa nasi bidan). Hal ini harus dilaksanakan, tidak dibawa maka terjadi pembicaraan yang serius dari warga masyarakat desa dengan anggapan jika hal ini tidak dilakukan maka anak yang lahir tidak baik atau nakal. Setelah usianya sudah beberapa hari diadakan upacara peucicap cukook dan sekaligus memberikan nama kemudian diadakan upacara peutron aneuk (menurunkan anak). Rangkaian upacara tersebut merupakan awal dari pola pengasuhan anak yang dilakukan oleh masyarakat pedesaan di Daerah Istimewa Aceh. Pola pengasuhan anak di Aceh ini pada prinsipnya masih memperlihatkan pola tradisional. Sesuai dengan latar belakang kebudayaan masyarakatnya, bahwa adat di Aceh ini tidak mutlak harus dilaksanakan. Bahkan ada perubahan dari adat istiadatnya yang mengakibatkan adanya kontak dengan kebudayaan luar sehingga menyebabkan banyak tergesernya adat istiadat setempat. Berpijak dari hal tertentu, masyarakatnya membuka selebar-lebarnya untuk memanfaatkan unsur modern dalam pengasuhan anaknya misalnya segi pendidikan. Sekarang ini walaupun orientasi masih mengacu pada agama Islam yang masih bertahan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi orang tua berupaya aktif untuk menyekolahkan anaknya di sekolah umum untuk kepentingan hari depan anaknya. Karena dengan bersekolah anak-anak mengenal berbagai tokoh pengasuh untuk membentuk kepribadiannya dan pergaulan yang luas. Selain mengenal tokoh pengasuh di sekolah mereka juga mengenal guru mengaji. Jadi pola pengasuhan anak di Aceh ini bukan saja dilakukan oleh orang tua di rumah, bahkan dilakukan oleh guru mengaji dan guru di sekolah.


Ketersediaan

Tidak ada salinan data

Informasi Detail
Judul Seri
-
No. Panggil
PPA - 649.1 (640-649) ALA P
Penerbit
Nanggroe Aceh Darussalam : DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN., 1990/1991
Deskripsi Fisik
v + 115hlm; 15cm x 23cm
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
PPA - 649.1 (640-649)
Tipe Isi
text
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subjek
-
Info Detail Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab
-
Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain

Lampiran Berkas
Tidak Ada Data
Komentar

Anda harus masuk sebelum memberikan komentar

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalimantan Barat
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

As a complete Library Management System, SLiMS (Senayan Library Management System) has many features that will help libraries and librarians to do their job easily and quickly. Follow this link to show some features provided by SLiMS.

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik
Kemana ingin Anda bagikan?