Text
PROSES BINA PERDAMAIAN DI KABUPATEN KOTA WARINGIN TIMUR (SUATU KAJIAN SOSIAL BUDAYA)
Budaya dalam konflik Sampit dapat diduga menjadi sumber legitimasi terhadap konflik namun juga dapat menjadi landasan untuk membangun resolusi konflik yang diterima masyarakat. Warga masyarakat memahami bahwa akar permasalahan konflik di Kotawaringin Timur dan Kalimantan Tengah pada umumnya adalah benturan budaya. Warga masyarakat setempat menganggap budaya orang Madura itu keras, suka menggunakan cara kekerasan dalam menyelesaikan permasalahan, ekslusif dan arogan. Para pihak yang memiliki peran dalam proses pembangunan perdamaian itu antara lain pemerintah daerah, pemerintah pusat, lembaga swadaya masyarakat, dan individu-individu yang peduli terhadap perdamaian. Namun prakarsa perdamaian tidak hanya muncul dari organisasi sosial dan instansi pemerintah, individu-individu tertentu juga dapat melakukan inisiatif perdamaian. Resolusi konflik di Kotawaringi Timur yang banyak menerapkan pendekatan budaya, seperti upaya revitalisasi adat istiadat atau belom bahadat dan norma sosial atau filosofi huma betang dan pemanfaatan modal sosial terbukti telah berhasil untuk membangun kembali integrasi sosial di wilayah Kotawaringin Timur.
Translate :
Culture in the Sampit conflict can be suspected to be a source of legitimacy to the conflict but it can also be a basis for building conflict resolution that is accepted by the community. Community members understand that the root cause of the conflict in East Kotawaringin and Central Kalimantan in general is a clash of cultures. Local community members consider Madurese culture to be harsh like to use violence to solve problems, exclusive and arrogant. The parties who have a role in the peacebuilding process include local governments, the central government, non-governmental organizations, and individuals who care about peace. But peace initiatives not only emerge from social organizations and government agencies, but certain individuals can also carry out peace initiatives. Conflict resolution in East Kotawaringi which applies a lot of cultural approaches, such as efforts to revitalize customs or not the social norms or norms or philosophy of human rights and the use of social capital has proven to be successful in rebuilding social integration in the East Kotawaringin region.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain