Text
GAGALNYA SISTEM KANAL PENGENDALIAN BANJIR JAKARTA DARI MASA KE MASA
Sejak lama diyakini, masalah banjir Jakarta dapat diatasi dengan membangun kanal, terusan, sudetan dan saluran drain). Pada belahan pertama abad ke-20, pemerintah kolonial Belanda menggali kanal Kali Malang. Kanal tersebut kemudian dikenal sebagai Kanal Banjir Barat. Setelah Indonesia merdeka sebelum membangun KBT, pemerintah juga telah menggali Cengkareng Drain, Cakung Drain, serta Sudetan Kali Sekretaris (1983-1985). Jakarta adalah kota yang terletak di daerah dataran yang sangat rendah, bahkan di beberapa tempat ketinggian permukaan tanahnya hanya 0-7 meter dpl, bahkan sebagian di bawah permukaan laut dalam bentuk rawa. Sehingga tingkat sedimentasi yang tinggi di sungainya membuat air tidak dapat mengalir sesuai hukum gravitasi. Kanal yang diharapkan dapat membantu menggelontarkan air hujan dengan cepat ke Teluk Jakarta pun tidak dapat berfungsi maksimal. Selama kurun waktu sekitar tiga perempat abad (1911-1985), bermacam usaha pemerintah untuk mengendalikan banjir termasuk dengan membangun berbagai kanal terbukti tidak mampu membebaskan warga Jakarta dari ancaman banjir pada setiap musim penghujan. Apabila ancaman banjir tidak diselesaikan, bukan tidak mungkin siklus banjir 200 tahunan akan terjadi dengan berpindahnya pusat kota ke tempat yang lebih tinggi.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain