Text
POLA ADAPTASI MIGRAN BAJO TERHADAP MASYARAKAT DI PULAU WANGI-WANGI KEPULAUAN WAKATOBI
Keberadaan masyarakat pendatang akibat migrasi atau urbanisasi di suatu wilayah membawa konsekuensi bagi migran untuk memiliki suatu metode sebagai strategi beradaptasi. Sebagai migran pendatang, orang Bajo dalam kesehariannya dapat hidup berdampingan dan terjalin kerjasama yang baik dan harmonis terhadap masyarakat disekitarnya (penduduk asli maupun masyarakat pendatang lainnya). Hubungan tersebut dilakukan dalam kegiatan gotong-royong, kerjasama, dan lainya. Beberapa etnis lain yang hidup berdampingan dengan orang-orang Bajo Mola seperti: suku Bugis Makassar, Buton, Tolaki, Ambon, dan lain-lainnya sehingga memudahkan bersosialisasi dan beradaptasi dengan orang-orang disekitarnya. Pola-pola adaptasi yang mereka lakukan antara lain adaptasi dengan lingkungan, adaptasi dalam kehidupan bermasyarakat, adaptasi dalam bidang ekonomi, adaptasi atau terjadinya hubungan kawin mawin di kuar sukunya dan adaptasi dalam kehidupan keagamaan. Dan orang Bajo tergolong etnis mayoritas di Kampung Mola sedangkan suku-suku lainnya yang bukan Bajo merupakan suku minoritas. Maka orang-orang Bajo yang paling banyak berinteraksi dan beradaptasi dengan penduduk asli mencapai angka 6188 bila dibandingkan dengan etnis-etnis pendatang lainnya. Orang Bajo yang lama menetap di Mola sudah paham dan mengerti bahasa daerah setempat (bahasa Wanci). Tetapi bila keduanya tidak saling mengerti dengan bahasa daerah lain etnis maka mereka menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantar didalam pergaulan mereka sehari-hari.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain