Text
LEUSER DALAM KONSEPSI MASYARAKAT GAYO LUES
LEUSER DALAM KONSEPSI MASYARAKAT GAYO LUES
Leuser tampak anggun dalam kekokohan dan keterlindungan dibalik pending-pending jajaran pegunungan bukit barisan dan dalam dekapan adat masyarakat lokal Gayo Lues. Hanya orang-orang dan tujuan tertentu pula yang dapat datang mendekati Leuser. Bahwa di puncak Leuser orang bisa melihat bulan sabit hari pertama pergantian bulan, sayu sayup dari kejauhan terdengar suara azan magrib saat dikumandangkan di pantai barat, dll. Kontak sosial dan keterbukaan dengan dunia luar semakin menyikap selubung Leuser, termasuk asal-usul sebutan itu. Pada penghujung dasawarsa kedua abad ke-20, nama Padang Sari Bulan segera berangsur-angsur mengendap dalam ingatan, dan yang tampil kemudian adalah sebutan Leuser. Perbedaan pendapat tentang asal-usul sebutan Leuser dapat dipahami, mengingat rentang waktu yang relatif cukup panjang antara perjalanan pasukan Van Daalen ke daerah Gayo Lues dan masa kita sekarang, yaitu genap satu abad. Makna kematian khusus untuk makhluk yang bernyawa dapat berwujud fisik maupun simbolik. Wujud fisik kematian dihubungan dengan temuan tulang belulang binatang berkerangka besar di kompleks Gunung Leuser maupun pengalaman pengalaman individual pribadi tertentu. Makna simbolik kematian dipautkan dengan sanksi pelanggaran adat Gayo Lues, yaitu dalam bentuk hukuman buang ke rimba Leuser yang berakibat status dan peran sosial seseorang dalam masyarakat dimatikan. Tangan keberdayaan ekonomi, masyarakat lokal akan selalu terobsesi bahwa apapun yang amsuk ke Gayo Lues adalah tidak bersih dan menjadi pemicu berbagai bencana.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain