Text
SISTEM KEPEMIMPINAN “SERA”
Pemimpin suku disebut sera. Sera memiliki otoritas yang kuat dalam kelompoknya. Dalam menjalankan pemerintahan adatnya, sera pada distrik Urei Faisei memiliki struktur organisasi sebagai berikut, sera selaku pemimpin tradisional. Sera dibantu seratitibi sebagai wakil dan Eso sebagai panglima perang. Sementara untuk Distrik Waropen Bawah di Waren, struktur organisasi terdiri atas serabawah yang dianggap sebagai kepala suku besar, serabawah dibantu oleh para sera sebagai wakil di masyarakat dan eso sebagai panglima perang. Sera berasal dari keturunan pertama dan diwariskan turun temurun pada garis keturunan anak pertama. Pada masa pemerintahan Belanda di Papua, secara adat kedudukan sera tetap merupakan pemimpin adat, namun secara politik kedudukan sera berada dibawah Kontrolir Belanda. Sekalipun demikian, pada masa Belanda sera menjadi mitra kerja bagi Belanda terutama dalam menjalankan fungsi sosialnya sebagai pemimpin adat dan fungsi ekonomi sebagai pengumpul pajak. Ketika pada tahun 1928, injil disebarkan dan mulai dianut oleh orang Waropen, maka dalam kehidupan sosial dan keagamaannya sera menghormati posisi seorang Pendeta atau Sending sebagai pemimpin masyarakat formal. Pergeseran sudah lama terjadi, tetapi baru dirasakan pada tahun 1980-an hingga sekarang, dengan masuknya unsur modern dalam kehidupan masyarakat dan berkembangnya kondisi politik di Waropen, dimana semua orang dapat menduduki posisi penting. Para sera yang tidak mampu mengimbangi hal tersebut pada akhirnya bergeser.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain