Text
PATRAWIDYA SERI PENERBITAN PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA VOL 14 NO 3
Patrawidya Vol 14 No 3 berisi sembilan artikel, empat tulisan tentang sejarah dan lima tulisan tentang budaya. Sri Margana mengawali tulisan yang membahas tentang bukti-bukti historis Kerajaan Blambangan pada masa pemerintahan Tawang Alun (1655-1691). Margana memakai data yang berasal dari arsip kolonial, babad, bukti arkeologis, dan tradisi lisan yang berkembang di masyarakat setempat dan sampai pada kesimpulan bahwa ibukota Kerajaan Blambangan pada masa pemerintahan Tawang Alun (1655-1691) adalah di Desa Macan Putih. Artikel kedua hasil penelitian Tugas Tri Wahyono yang membahas tentang wanita keturunan Arab dalam kiprahnya di organisasi Partai Arab Indonesia (PAI), lokasi yang dipilih Surakarta tahun 1940-1942. Hasil ini menunjukkan bahwa Partai Arab Indonesia Istri di Surakarta aktif dalam bidang pendidikan yakni mengadakan kursus membaca dan menulis bagi para perempuan keturunan Arab. Kegiatan lainnya berupa ceramah keagamaan.
Dwi Ratna Nurhajarini yang membahas tentang salah satu moda transportasi yang pernah hidup di Surabaya, yakni trem, dengan mengambil rentang waktu masa kolonial sampai pasca kemerdekaan. Penelitian ini menghasilkan tesis bahwa keberadaan trem membawa pengaruh dalam bidang ekonomi, perkembangan kota dan mobilitas manusia. Industri perbioskopan menjadi kajian yang ditulis oleh Retna Astuti dengan mengambil fokus di Kota Yogyakarta pada tahun 1954-1990 an. Menurut Retna Astuti gedung bioskop menjadi salah satu tempat hiburan dan menjadi penanda gaya hidup. Industri perbioskopan di Yogyakarta pernah mengalami masa keemasan antara lain 1980-1990 an, dan setelah itu mulai surut seiring dengan hadirnya media hiburan lain berupa VCD dan DVD.
Isni Herawati membahas tentang pola pengasuhan anak, lokasi penelitian di Pulau Poteran, Talango, Sumenep. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pola pengasuhan anak sejak si anak lahir sampai umur 12 tahun, pengasuhannya lebih dominan diurus oleh ibu. Dalam masa tumbuh kembang anak usia 2-3 tahun sudah mulai diajari mengaji dan saat masuk usia sekolah, anak laki-laki sudah waktunya untuk di khitan. Sumintarsih menulis tentang strategi ketahanan pangan yang dilakukan oleh masyarakat di kawasan hutan Baluran. Daerah yang menjadi fokus penelitian di dominasi oleh migran dari Jawa dan Madura. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam sistem produksi orang Madura cederung menanam jenis tanaman apa saja, sedangkan orang Jawa cenderung menanam jenis-jenis tanaman yang laku di pasaran.
Tulisan lainnya dari Pujianto yang membahas tentang dialektika estetik simbolik melalui ideologi "budaya visual" pada iklan "madurasa". Hasil penelitian Pujianto menunjukkan bahwa strategi yang digunakan pada media promosi "madurasa stick" disesuaikan pada target khalayak melalui pendekatan ideologi hegemoni yang mengarah pada unsur-unsur desain. Tulisan berikut masih ada kaitan dengan media promosi yakni iklan yang menampilkan sosok pewayangan. Menurut Prayanto Widyo H, dalam dunia politik kebudayaan sebagaimana gambar wayang pada iklan, tidak hanya semangat memperkenalkan produk tetapi lebih merupakan semangat untuk memasukkan ideologi mengkonsumsi bagi para pembacanya. Christriyati Ariani membahas tentang Simbol, Makna, dan Nilai Filosofi batik Banyumasan. Christriyati Ariani memaparkan bahwa motif batik Banyumasan ada dua kelompok yakni motif batik yang mendapat pengaruh kraton dan batik petani.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain