Text
PATRAWIDYA SERI PENERBITAN SEJARAH DAN BUDAYA VOL 17 NO 1
Patrawidya Vol 17 No 1 memuat tujuh artikel tentang sejarah dan budaya. Farabi Fakih menulis tentang ide-ide ekonomi PKI dan perbandingannya dengan ide ekonomi yang dimiliki oleh 'kelas manajerial' Indonesia yang muncul pada akhir tahun1950an dan awal 1960an. Periode ini penuh dengan ide-ide mengenai hubungan negara dengan masyarakat yang lebih luas, khususnya dalam hubungan ekonomis. M. Yuanda zara menghadirkan artikel yang membahas tentang bagaimana para pemimpin Indonesia menghadapi tantangan-tantangan besar untuk membangun negara yang baru merdeka. satu cara untuk menghadapi berbagai tantangan pada masa itu dengan mengintensifkan komunikasi pemerintah, baik untuk menginformasikan kepada masyarakat tentang keberhasilan yang telah dicapai pemerintah serta mengajak masyarakat untuk ambil bagian dalam program-programnya.
Artikel yang menarik tentang kontruksi kebangsaan di daerah perbatasan ditulis oleh Lina Puryanti dan Sarkawi B. Husain mengulas tentang bagaimana masyarakat Pulau Sebatik di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara yang berbatasan langsung dengan Tawau-Malaysia, membangun konstruksi kebangsaan di tengah perubahan sosial, migrasi, dan politik identitas. Artikel lain membahas tentang Kemandirian Petani Garam Perempuandi Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, ditengah-tengah Kebijakan Impor garam, yang ditulis oleh Lucia Juningsih. hasil penelitian Lucia Juningsih menunjukkan bahwa kebijakan impor garam oleh pemerintah tidak berpengaruh pada usaha pembuatan garam yang dilakukan oleh para perempuan.
Wiwin Indarti bersama dengan Abdul Munir hadir dengan tulisan yang membahas tentang peran dan relasi gender masyarakat Using dilihat dari lakon Barong kemiren Banyuwangi. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa analisis yang berhubungan dengan peran dan relasi gender dalam lakon Barong Kemiren memperlihatkan adanya perlawanan tokoh perempuan terhadap dominasi tokoh laki-laki, seperti ditunjukkan dalam keberanian dan kebebasan tokoh-tokoh perempuan dalam lakon barong Kemiren untuk menentukan pilihan hidupnya.
Etnografi tentang kehidupan anak-anak Kefamenanu hadir di tengah pembaca melalui tulisan Prayanto W. Harsanto. kabupaten Kefamenanu di Nusa Tenggara Timur menurut penelitian Prayanto W. Harsanto, umumnya miskin infrastruktur dan tidak memiliki aksebilitas yang baik. Artikel Sutiyono membahas tentang Sinkretisme Budaya dalam Seni Reog di Brijo Lor, Trucuk, Klaten. Sutiyono berusaha menggambarkan terjadinya sinkritisme budaya dalam pertunjukkan reog di Brijo Lor, Klaten. hasil penelitiannya menunjukkan bahwa sinkritisme budaya merupakan percampuran budaya baru dan budaya lokal atau merupakan percampuran aktivitas budaya yang terdiri dari bentuk seni pertunjukkan yang dilakukan oleh penari berkostum prajurit, naik kuda kepang, bersenjatakan pedang dan tombak, diiringi bende, terbang dan angklung.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain