Text
PERKAMPUNGAN DI PERKOTAAN SEBAGAI WUJUD PROSES ADAPTASI SOSIAL PERKAMPUNGAN MISKIN YOGYAKARTA
PERKAMPUNGAN DI PERKOTAAN SEBAGAI WUJUD PROSES ADAPTASI SOSIALPERKAMPUNGAN MISKIN YOGYAKARTA
Dalam laporan ini telah ditunjukkan bagaimana corak kehidupan di perkampungan miskin kota Yogyakarta. Corak tersebut adalah corak kehidupan penduduk perkampungan miskin di pusat kota dan corak kehidupan penduduk perkampungan miskin di pinggiran kota. Perbedaan tersebut antara lain merupakan pengaruh dari kebudayaan kota untuk Rukun Kampung Gemblakan Bawah dan pengaruh yang kuat dari kebudayaan pedesaan. Bagi Rukun Kampung Nitikan, pengaruh tersebut dipengaruhi pula oleh mata pencaharian, karena mata pencaharian ini ini berpengaruh terhadap penghasilan penduduk. Penghasilan ini selanjutnya menentukan corak kehidupan seseorang, meskipun masih bnayak pula faktor lain yang mempengaruhinya. Dalam penelitian ini diperlihatkan bahwa kemiskinan di kedua Rukun Kampung yang diteliti bukan sesuatu yang berdiri sendiri, tetapi ada kaitanya dengan faktor kondisi umum kota dan kondisi dari kampung-kampung yang bersangkutan, baik kondisi fisik, sosial dan corak kehidupannya. Bahwa corak kehidupan kemiskinan tersebut nampaknya juga melibatkan faktor-faktor lainnya. Kondisi lingkungan sangat erat hubungannya dengan tingkat ekonomi penduduk. Tidak adanya lahan pertanian di RukunKampung Gemblakan Bawah mengakibatkan tidak adanya petani atau buruh tani. Adanya lahan pertanian di Rukun Kampung Nitikan mengakibatkan adanya petani ataupun buruh tani, serta adanya pengrajin memungkinkan adanya kesempatan orang bekerjasebagai buruh pengrajin dengan kepastian hasil yang dapat diharapkan. Warga perkampungan miskin di pusat kota kebanyakan merasa belum puas dengan kehidupan sekarang, karena tidak sesuai dengan dengan kepandaianatau ijazah yang dimiliki. Selain daripada itu susunan kehidupan kota mendorong hasrat untuk meningkatkan taraf hidupnya, meskipun titik terang untuk mencapai maksud tersebut pada saat ini belum tampak. Di perkampungan miskin di pinggir kota penduduk pada umunya telah puas dengan kehidupan sekarang (keadaannya memang lebih baik dari perkampungan miskin di pusat kota). Suasana lingkungan pedesaan menyebabkan tidak adanya dorongan untuk maju. Orang lebih bersifat "nrimo", yaitu menerima suatu kenyataan tanpa mengeluh. Di perkampungan miskin di pusat kota kebanyakan orang masih menginginkan mata pencaharian yang lain, sedangkan yang di pinggiran kota tidak menginginkan pergantian mata pencaharian. Lingkungan hidup ternyata sangat berpengaruh terhadap kehidupan warganya, baik bersifat positif ataupun negatif. Suasana lingkungan kampung miskin di pinggir kota menyebabkan orang lekas puas dengan apa yang dimilikinya, sehingga hasrat untuk lebih maju adalah kecil. Berlainan dengan suasana lingkungan miskin di pusat kota, kondisi lingkungan mengakibatkan orang kurang puas dengan kehidupan sekarang dan selalu ingin meningkatkan kehidupannya.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain