Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalimantan Barat

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
Image of DEUREUHAM ACEH MATA UANG EMAS TERTUA DI NUSANTARA
Penanda Bagikan

Text

DEUREUHAM ACEH MATA UANG EMAS TERTUA DI NUSANTARA

SUDIRMAN - Nama Orang;

Banyak masyarakat yang belum mengetahui jika Indonesia pernah menggunakan mata uang deureuham (dirham) sebagai alat transaksi perdagangan. Dirham dikenalkan sebagai mata uang pada abad ke-13 di Kerajaan Samudra Pasai, Aceh. Mata uang emas atau deureuham tersebut sangat erat kaitannya dengan perekonomian masyarakat Aceh pada saat itu. Pada sekitar abad ke-16 dan 17, perekonomian Aceh memunculkan pula sistem takaran, timbangan, dan mata uang. Satuan takaran atau timbangan yang berlaku terkait dengan sistem unum yang berlaku di kawasan barat Nusantara pada waktu itu, yaitu koyan, bahar, pikul dan kati. Mata uang emas (deureuham) yang pernah ditemukan di bekas kerajaan Pasai adalah mata uang emas pertama dan dianggap sebagai deureuham tertua. Mata uang emas itu dikeluarkan pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik Al-Zahir (1297-1326 M). selain itu, bentuk mata uang emas itu juga ditiru oleh Kerajaan Aceh, setelah kerajaan itu menaklukkan Pasai pada tahun 1624 M. Mata uang ini yang berasal dari kerajaan Pasai dan Aceh, bentuknya kecil, tipis dan bulat; bergaris tengah + 1cm, beratnya tidak lebih dari 9 grein Inggris (1 grein sama dengan 0,583 gr). Pada sisi bagian muka uang itu umumnya tertera nama sultan dengan memakai gelar Malik az-Zahir. Pada sisi lain mata uang ini terdapat tulisan dalam bentuk ungkapan yang berbunyi as sultan al adil,ungkapan itu juga digunakan oleh sultan di kerajaan Aceh, hingga masa pemerintahan Sultan Alaiddin Riayat Syah Al-Mukammil. Akan tetapi pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda ungkapan itu tidak dipakai lagi.


Ketersediaan

Tidak ada salinan data

Informasi Detail
Judul Seri
-
No. Panggil
SEK - 900 (900-909) SUD D
Penerbit
BANDA ACEH : BPNB ACEH., 2018
Deskripsi Fisik
v + 18 hlm; 14,6cm x 20,7cm;ILUS
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
978-602-9457-76-6
Klasifikasi
SEK - 900 (900-909)
Tipe Isi
text
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subjek
-
Info Detail Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab
-
Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain

Lampiran Berkas
Tidak Ada Data
Komentar

Anda harus masuk sebelum memberikan komentar

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalimantan Barat
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

As a complete Library Management System, SLiMS (Senayan Library Management System) has many features that will help libraries and librarians to do their job easily and quickly. Follow this link to show some features provided by SLiMS.

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik
Kemana ingin Anda bagikan?