Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalimantan Barat

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
Image of KEKERASAN EKSTREM BELANDA DI INDONESIA PERANG KEMERDEKAAN INDONESIA 1945-1949
Penanda Bagikan

Text

KEKERASAN EKSTREM BELANDA DI INDONESIA PERANG KEMERDEKAAN INDONESIA 1945-1949

REMY LIMPACH - Nama Orang;

Aksi kekerasan yang insidental atau tindak kekerasan ekstrem non struktural? Sejak 1969, Pemerintah Belanda berpendirian bahwa angkatan bersenjata di bawah Komandan Tentara Spoor secara keseluruhan telah bertindak secara tepat selama perang kemerdekaan Indonesia (1945-1949). Ekses insidental terjadi hanya sewaktu-waktu dibeberapa unit khusus yang kecil. Menurut Belanda, praktek kekerasan ini juga harus dipahami dalam konteks muslihat perang yang lepas kendali di pihak Indonesia. Dengan alibi itu, maka perbuatan kekerasan berlebihan hanya dipandang sebagai pengecualian semata. Melalui siasat untuk menutupi fakta ini dan masyarakat Belanda yang turut diam, konflik itu dalam jangka yang lama dinilai sebagai perang yang relatif bersih. Sekitar 5.000 prajurit Belanda dan setidaknya 100.000 orang Indonesia telah tewas akibat perang Belanda-Indonesia. Pada pertempuran ini, Belanda mengerahkan tidak kurang dari 220.000 tentara, yang menjadi perang terbesar di seberang lautan dalam sejarah Belanda. Bagi Indonesia, yang melancarkan perang rakyat semesta dalam masa konflik itu, kemenangan pada 27 Desember 1949 membawa Indonesia pada kepastian kemerdekaan yang diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta pada 17 Agustus 1945. Dalam beberapa dekade terakhir, di Belanda, terjadi debat publik mengenai perang kemerdekaan Indonesia yang berfokus pada penggunaan aksi kekerasan yang ekstrem. Untuk waktu yang lama, kesadaran bahwa tindak kekerasan ini juga merupakan bagian dari sejarah nasional Belanda tersumbat oleh pemikiran khalayak, bahwa peran pelaku tidak sesuai dengan citra diri orang Belanda.


Ketersediaan

Tidak ada salinan data

Informasi Detail
Judul Seri
-
No. Panggil
SPR - 904.7 (900-909) REM K
Penerbit
DKI JAKARTA : YAYASAN PUSTAKA OBOR INDONESIA., 2019
Deskripsi Fisik
xxviii + 223hlm; 14,5cm x 21 cm; ILUS
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
978-602-433-791-9
Klasifikasi
SPR - 904.7 (900-909)
Tipe Isi
text
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subjek
-
Info Detail Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab
-
Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain

Lampiran Berkas
Tidak Ada Data
Komentar

Anda harus masuk sebelum memberikan komentar

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalimantan Barat
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

As a complete Library Management System, SLiMS (Senayan Library Management System) has many features that will help libraries and librarians to do their job easily and quickly. Follow this link to show some features provided by SLiMS.

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik
Kemana ingin Anda bagikan?