Text
KEKERASAN EKSTREM BELANDA DI INDONESIA PERANG KEMERDEKAAN INDONESIA 1945-1949
Aksi kekerasan yang insidental atau tindak kekerasan ekstrem non struktural? Sejak 1969, Pemerintah Belanda berpendirian bahwa angkatan bersenjata di bawah Komandan Tentara Spoor secara keseluruhan telah bertindak secara tepat selama perang kemerdekaan Indonesia (1945-1949). Ekses insidental terjadi hanya sewaktu-waktu dibeberapa unit khusus yang kecil. Menurut Belanda, praktek kekerasan ini juga harus dipahami dalam konteks muslihat perang yang lepas kendali di pihak Indonesia. Dengan alibi itu, maka perbuatan kekerasan berlebihan hanya dipandang sebagai pengecualian semata. Melalui siasat untuk menutupi fakta ini dan masyarakat Belanda yang turut diam, konflik itu dalam jangka yang lama dinilai sebagai perang yang relatif bersih. Sekitar 5.000 prajurit Belanda dan setidaknya 100.000 orang Indonesia telah tewas akibat perang Belanda-Indonesia. Pada pertempuran ini, Belanda mengerahkan tidak kurang dari 220.000 tentara, yang menjadi perang terbesar di seberang lautan dalam sejarah Belanda. Bagi Indonesia, yang melancarkan perang rakyat semesta dalam masa konflik itu, kemenangan pada 27 Desember 1949 membawa Indonesia pada kepastian kemerdekaan yang diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta pada 17 Agustus 1945. Dalam beberapa dekade terakhir, di Belanda, terjadi debat publik mengenai perang kemerdekaan Indonesia yang berfokus pada penggunaan aksi kekerasan yang ekstrem. Untuk waktu yang lama, kesadaran bahwa tindak kekerasan ini juga merupakan bagian dari sejarah nasional Belanda tersumbat oleh pemikiran khalayak, bahwa peran pelaku tidak sesuai dengan citra diri orang Belanda.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain