Text
MINAHASA AUGENBLICK
Buku Minahasa Augenblick ini berisikan mengenai sesuatu yang ada di Minahasa. Di buku ini menggunakan 2 (dua) bahasa yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Perancis. Adapun yang dibahas di Buku Minahasa ini meliputi Waruga. Waruga adalah kuburan yang terbuat dari batu apela (domato) dan diberi lubang di tengahnya sebagai tempat untuk mengisi mayat. Mayat diletakkan dengan posisi duduk. Aspek seni waruga dapat dilihat pada dekorasi-dekorasi pahatan dan ukiran di badan dan tutup waruga. Hiasan tersebut bermacam-macam bentuknya seperti motif manusia, motif tumbuh-tumbuhan, motif binatang dan motif geometris atau tradisional. Kedua, yang dibahas dalam buku Minahasa Augenblick ini yaitu mengenai Tumatenden. Tumatenden yaitu kisah terjadinya Pancuran Bidadari. Hingga sekarang air Tumatenden ini masih dipelihara oleh masyarakat sekitarnya dan digunakan sebagai tempat pemandian umum. Pancuran Bidadari ini tepatnya berada di Airmadidi, Minahasa. Siapa saja boleh datang di Airmadidi ini untuk menyaksikan dan mandi di air tumatenden ini. Rumah Panggung merupakan tema yang selanjutnya dibahas di dalam buku ini. Rumah Panggung merupakan rumah tradisional Minahasa yaitu sebagai tempat kediaman para anggota rumah tangga (keluarga) yang mempunyai sebutan khusus sesuai dengan bahasa daerah asal penduduk. Rumah oleh penduduk suku Minahasa dinamakan "Wale" datau "Bale". Dewasa ini, rumah tradisional Minahasa (rumah pnaggung) telah banyak mengalami perubahan baik menyangkut bahan yang digunakan maupun letak ruangannya. Tetapi bentuknya tampak sama seperti semula. Danau Tondano merupakan akhir yang akan dibahas dalam buku Minahasa Augenblick ini. Danau Tondano ini merupakan sebuah legenda dari Minahasa.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain