Text
PEMUKIMAN SEBAGAI KESATUAN EKOSISTEM DAERAH ISTIMEWA ACEH
PEMUKIMAN SEBAGAI KESATUAN EKOSISTEM DAERAH ISTIMEWA ACEH
Angka beban ketergantungan, baik di Reronga maupun Simpang dua relatif tinggi. Tahapan perkembangan Reronga sebagai desa swasembada dalam kenyataan memang berhasil menarik perhatian penduduk luar untuk bermukim di sana. Namun mobilitas penduduk yang keluar dari reronga relatif berusia produktif kerja. Sedangkan penduduk yang datang dan menetap di Reronga pada umumnya mereka yang berusia lanjut, antara lain para pensiunan angkatan bersenjata. Secara menyeluruh kemampuan responden Reronga untuk mencukupkan bahan kebutuhan pokoknya relatif lebih tinggi daripada pemenuhan kebutuhan pokok di Simpangdua. Begitu pula dalam pemenuhan akan perumahan dan pakaian. Salah satu sumber tambahan tenaga kerja adalah dari anak-anak mereka sendiri, yang umumnya masih bersekolah. Kadar pengetahuan mereka mengenai berbagai program dan proyek pembangunan, di Kemukiman Reronga lebih tinggi daripada di Kemukiman Simpangdua. Kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok, kesempatan kerja yang lebih baik, dan sikap kritis yang tinggi, biasanya dapat menjelmakan kerukunan hidup. Persengketaan atau konflik sosial di antara mereka boleh dikatakan masih terbatas. Kalaupun ada persengketaan, umumnya dapat mereka atasi secara kekeluargaan, dan saling memaafkan.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain