Text
PERAN ANAK NAGARI PADA MASA PERANG STUDI KASUS NAGARI SITUJUAH BATUA KEBUPATEN LIMA PULUH KOTA DALAM PERISTIWA PDRI DAN PRRI (1948-1966)
Masyarakat nagari Situjuah Batua telah memberikan peran yang cukup berarti di dalam masa-masa perang antara tahun 1940-an sampai dengan tahun 1960-an. Peran mereka kelihatan pada masa peristiwa PDRI dan PRRI. Didalam peristiwa PDRI masyarakat Situjuah Batua telah bahu membahu untuk membantu pejuang Indonesia dalam melawan penjajah Belanda. Masyarakat ini ikut serta secara aktif berjuang, baik yang terjun langsung dalam kesatuan TNI maupun dengan melibatkan diri dalam organisasi perjuangan mereka seperti BPNK, PMI, Dapur Umum dan lain-lain untuk melawan kolonial Belanda. Di nagari ini, pada tanggal 15 Januari 1949 telah terjadi peristiwa yang dikenal dengan Peristiwa Situjuah Batua yaitu terjadinya pembunuhan massal yang dilakukan oleh Tentara Belanda. Nagari Situjuah Batua kemudian mengambil peran yang cukup berarti lagi ketika terjadinya peristiwa PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatera Tengah. Munculnya PRRI, yang dalam istilah Minangkabau sering disebut dengan peri-peri, adalah terlepas dari kondisi politik kenegaraan Indonesia pada pertengahan abad ke-20. Pada masa PRRI, anak Nagari Situjuah pada umumnya berpihak kepada PRRI. Mereka ikut berperan dalam menghadapi tentara pusat tersebut. Disamping sokongan anak Nagari Situjuah diwujudkan dalam kegiatan gerilya, Dapur umum, dan Palang Merah Indonesia, Nagari Situjuah juga menyediakan tempat pengungsian bagi mereka yang ingin menyelamatkan dirinya dari kerajaan TNI baik dari Payakumbuh pengungsi-pengungsi yang berdatangan dari nagari lain. Pengungsi-pengungsi itu mereka tempatkan di rumah-rumah penduduk yang memungkinkan untuk mereka menginap. Hal lain yang sangat dibenci oleh masyarakat adalah telah terjadinya pemerkosaan oleh tentara pusat terhadap ibu dan anak gadis Situjuah.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain