Text
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN NEGARA TERHADAP ETNIS TIONGHOA PASCA ORDE BARU
Setelah berakhirnya Orde Baru, kebijakan terhadap etnis Tionghoa di Indonesia mengalami perubahan yang lebih terbuka, terutama dalam hal kebebasan berekspresi budaya. Hal ini terlihat dari munculnya berbagai organisasi, media berbahasa Mandarin, serta perayaan budaya Tionghoa di ruang publik. Fenomena ini sering disebut sebagai kembalinya identitas budaya Tionghoa.
Namun, meskipun kebijakan sudah lebih inklusif, stereotip dan sentimen negatif terhadap etnis Tionghoa masih tetap ada, bahkan cenderung menguat pada momen politik. Persepsi negatif ini berkaitan dengan anggapan tentang dominasi ekonomi, eksklusivitas, pengaruh politik, dan loyalitas kebangsaan. Media sosial juga turut memperkuat penyebaran sentimen tersebut.
Akar masalah ini tidak lepas dari sejarah panjang, mulai dari masa kolonial hingga kebijakan asimilasi pada era Orde Baru yang cenderung diskriminatif. Meskipun reformasi telah membawa perubahan positif, pada kenyataannya kesenjangan antara kebijakan dan praktik di lapangan masih terjadi, sehingga upaya mewujudkan kesetaraan dan masyarakat multikultural yang harmonis masih menjadi tantangan.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain