Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalimantan Barat

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
Image of MAKNA SIMBOLIK DAN NILAI BUDAYA KULINER
Penanda Bagikan

Text

MAKNA SIMBOLIK DAN NILAI BUDAYA KULINER "WADAI BANJAR 41 MACAM" PADA MASYARAKAT BANJAR KALSEL

NENI PUJI NUR RAHMAWATI - Nama Orang; MUSFEBTIAL - Nama Orang; SYARIFUDDIN R - Nama Orang;

Wadai Banjar 41 Macam merupakan kuliner khas masyarakat Banjar, khususnya di Kabupaten Banjar dan umumnya di Kalimantan Selatan. Pada masa lalu Wadai Banjar 41 macam disajikan untuk memulai syarat suatu kegiatan upacara adat, pesta, atau kegiatan penting lainnya. Tujuannya adalah agar kegiatan atau hajatan yang akan dilaksanakan tidak diganggu oleh makhluk halus atau makhluk gaib. Wadai Banjar 41 Macam yang dipergunakan untuk kelengkapan acara-acara adat ini mempunyai maksud agar individu yang bersangkutan dapat berkomunikasi dengan Tuhan. selain itu juga dipergunakan untuk maksud-maksud tertentu yang ditujukan kepada arwah/roh yang sudah meninggal dunia maupun makhluk halus. melalui pelaksanaan acara-acara adat beserta sesajiannya/hidangan pelengkapnya, dapat diambil hikmahnya yaitu memperkuat norma-norma nilai budaya yang telah berlaku di dalam masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan. Dalam makanan/kuliner tradisional yang berupa Wadai Banjar 41 Macam ini setelah dikaji ternyata mengandung unsur-unsur/nilai-nilai budaya yang bisa diteladani. uraian nilai-nilai budaya itu dapat berasal dari bahan, proses pembuatan, warna dan cara penyajiannya. Adapun nilai-nilai budaya yang terkandung di dalam Wadai Banjar 41 Macam itu diantaranya nilai gotong royong, nilai saling berbagi, nilai kebersamaan, nilai hormat pada pemimpin, nilai kesabaran, nilai sosial, nilai kesehatan, nilai harga diri. Selain sebagai perlengkapan sesajian pada acara adat masyarakat Banjar, makanan ini juga berfungsi sebagai makanan populuran/sasala (selingan), seperti pada pagi hari setelah sholat subuh dan sore hari sambil berbincang-bincang dengan keluarga. Tradisi makan wadai populuran atau biasa juga disebut wadai kakutilan termasuk dalam makanan ringan, karena terdiri dari wadai-wadai yang tidak mengenyangkan.
Translate
Wadai Banjar 41 Macam was a typical culinary of the Banjar people, especially in the Banjar District and generally in South Kalimantan. In the past, Wadai Banjar 41 Macam was presented to start the requirements of a custom ceremony, party, or other important activity. The goal was that activities or celebrations to be carried out were not disturbed by spirits or supernatural beings. Wadai Banjar 41 Macam which was used for the completeness of traditional events had a purpose so that the individual concerned could communicate with God. Besides that, it was also used for certain purposes aimed at spirits / spirits who have passed away or spirits. Through the implementation of traditional events and their offerings / complementary dishes, lessons could be taken that was strengthening the norms of cultural values that had prevailed in the Banjar community in South Kalimantan. In the traditional food / culinary in the form of Wadai Banjar 41 Macam , after this study, it turned out that it contained elements / cultural values that could be emulated. The description of cultural values could be derived from the material, manufacturing process, colour and how to present it. As for the cultural values contained in the Wadai Banjar 41 Macam, including the values of mutual cooperation, the value of sharing, the value of togetherness, the value of respect for leaders, the value of patience, social value, health value, self-esteem. Aside from serving as an equipment for traditional Banjar community events, this food also functioned as a population food / sasala (interlude), such as in the morning after dawn prayer and in the afternoon while chatting with the family. The tradition of eating popular pawns or also called wadai kakutilan was included in snacks, because it consisted of pawns that are not filling up.


Ketersediaan

Tidak ada salinan data

Informasi Detail
Judul Seri
-
No. Panggil
KUL - 641.5 (640-649) NEN M
Penerbit
D.I YOGYAKARTA : KEPEL PRESS., 2014
Deskripsi Fisik
viii + 113hlm; 15,5cm x 23cm; ILUS
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
978-602-1228-94-4
Klasifikasi
KUL - 641.5 (640-649)
Tipe Isi
text
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subjek
-
Info Detail Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab
-
Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain

Lampiran Berkas
  • MAKNA SIMBOLIK DAN NILAI BUDAYA KULINER WADAI BANJAR 41
Komentar

Anda harus masuk sebelum memberikan komentar

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalimantan Barat
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

As a complete Library Management System, SLiMS (Senayan Library Management System) has many features that will help libraries and librarians to do their job easily and quickly. Follow this link to show some features provided by SLiMS.

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik
Kemana ingin Anda bagikan?